Antonia Conte Membalas Hinaan dari Diego Costa. Antonio Conte tidak tinggal diam setelah mendapat hinaan pedas dari Diego Costa. Pelatih Napoli ini langsung memberikan balasan tajam dalam konferensi pers menjelang pertandingan penting melawan Chelsea di Liga Champions. Costa, mantan anak asuhnya di Stamford Bridge, baru saja melontarkan komentar pribadi yang kasar di sebuah podcast, menyebut Conte sebagai sosok pahit dan bahkan menyentuh urusan kehidupan pribadi. Conte merespons dengan tenang tapi menyengat, menegaskan bahwa di dunia sepak bola ada orang pintar dan orang bodoh, serta mengungkap sisi lain dari hubungan mereka dulu. Insiden ini kembali memanaskan perseteruan lama yang sudah berlangsung hampir satu dekade. REVIEW FILM
Latar Belakang Perseteruan Lama: Antonia Conte Membalas Hinaan dari Diego Costa
Hubungan Conte dan Costa retak sejak musim 2017 di Chelsea. Saat itu, mereka berhasil juara liga bersama, tapi ketegangan muncul di belakang layar. Costa merasa tidak dihargai, terutama setelah mendapat pesan teks dari Conte yang menyatakan ia tidak termasuk rencana musim depan. Costa pun pergi ke Atletico Madrid, sementara Conte akhirnya meninggalkan Chelsea tak lama kemudian. Perselisihan ini sempat mereda, tapi Costa kerap mengungkitnya lagi di berbagai kesempatan. Baru-baru ini, di podcast bersama mantan rekan setim, Costa meluapkan kekesalan lama: menyebut Conte selalu marah, tidak dipercaya pemain, dan bahkan melontarkan hinaan pribadi yang tidak pantas. Komentar itu langsung viral dan memicu reaksi dari Conte, terutama karena pertandingan mendatang mempertemukan Napoli dengan Chelsea—klub yang menjadi saksi perseteruan mereka.
Respons Tajam dari Antonio Conte: Antonia Conte Membalas Hinaan dari Diego Costa
Dalam konferensi pers, Conte memilih tidak terpancing emosi berlebih. Ia menyatakan tidak suka membuang waktu membaca omongan orang, apalagi yang menurutnya tidak cerdas. Kalimatnya langsung menyiratkan sindiran kepada Costa: di sepak bola ada orang pintar dan orang bodoh, jadi ia tidak mau repot-repot menanggapi. Conte lalu membalikkan narasi dengan mengungkap fakta bahwa Costa sempat mencoba pergi tiga kali selama musim juara 2016/2017. Ia menekankan bahwa hubungan mereka hanya satu musim, dan setelah itu ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Costa. Respons ini terdengar dingin tapi efektif, karena langsung menyerang kredibilitas Costa tanpa turun ke level hinaan pribadi. Banyak yang melihat ini sebagai cara Conte mempertahankan martabat sambil mengingatkan bahwa prestasi mereka dulu adalah kerja sama, bukan hanya kontribusi satu pihak.
Dampak bagi Kedua Pihak dan Pertandingan Mendatang
Balasan Conte ini langsung menjadi sorotan media dan penggemar. Bagi Costa, komentarnya yang berlebihan malah membuatnya terlihat tidak dewasa, terutama karena menyentuh hal pribadi yang tidak relevan dengan sepak bola. Sementara Conte berhasil menjaga image sebagai pelatih berpengalaman yang fokus pada fakta, bukan emosi. Situasi ini menambah panas laga Napoli kontra Chelsea, di mana keduanya punya sejarah panjang. Conte pernah sukses besar di Stamford Bridge, dan kini ia kembali sebagai lawan. Penggemar Chelsea mungkin terbagi antara nostalgia masa juara bersama Costa dan dukungan terhadap gaya Conte yang selalu intens. Di sisi lain, Costa yang sudah pensiun tetap aktif bicara, tapi respons kali ini menunjukkan ia kalah kelas dalam berdebat. Pertandingan nanti diprediksi akan penuh emosi, meski keduanya tidak lagi berada di lapangan bersama.
Kesimpulan
Antonio Conte berhasil membalas hinaan Diego Costa dengan cara yang cerdas dan terkendali. Alih-alih terlibat perang kata kasar, ia memilih mengungkap fakta lama sambil menyindir kecerdasan lawan bicaranya. Perseteruan ini mengingatkan betapa rumitnya hubungan pelatih-pemain, terutama ketika prestasi besar diikuti konflik besar. Kini, fokus beralih ke lapangan, di mana Napoli dan Chelsea akan saling sikut demi poin penting di Liga Champions. Drama di luar lapangan ini mungkin berakhir di sini, tapi cerita Conte-Costa jelas belum usai sepenuhnya. Yang pasti, keduanya tetap jadi bagian sejarah Chelsea yang tak terlupakan, meski dengan rasa yang berbeda.