Benfica Kalah dari Real Madrid UCL MD8. Pertandingan pamunggas fase liga UEFA Champions League 2025/26 di Estádio da Luz menjadi salah satu yang paling dramatis musim ini. Benfica, di bawah arahan José Mourinho, berhasil mengalahkan Real Madrid dengan skor mencengangkan 4-2. Hasil ini tidak hanya mengejutkan karena kekalahan tim Spanyol yang diunggulkan, tapi juga karena gol penentu dicetak oleh kiper Benfica, Anatoliy Trubin, di menit ke-98 lewat sundulan dari situasi bola mati. Kekalahan ini membuat Real Madrid terlempar dari delapan besar dan harus melalui babak playoff knockout, sementara Benfica lolos ke tahap yang sama secara dramatis di posisi ke-24. Laga ini penuh gol, kontroversi kartu merah, dan momen tak terduga yang membuatnya layak disebut highlight Matchday 8. INFO SAHAM
Awal Laga dan Baliknya Keadaan di Babak Pertama: Benfica Kalah dari Real Madrid UCL MD8
Real Madrid memulai dengan baik dan unggul lebih dulu berkat gol Kylian Mbappé pada menit ke-29. Gol itu tampaknya membuka jalan bagi Los Blancos untuk mengamankan tempat langsung ke babak 16 besar, mengingat posisi mereka yang aman di klasemen sebelum laga. Namun, Benfica tidak menyerah. Andreas Schjelderup menyamakan kedudukan beberapa menit kemudian dengan sundulan akurat, lalu Vangelis Pavlidis mengubah skor menjadi 2-1 lewat penalti sebelum turun minum.
Babak pertama ini menunjukkan ketangguhan Benfica di kandang sendiri. Mereka memanfaatkan transisi cepat dan eksploitasi lini belakang Madrid yang tinggi. Mourinho, yang pernah melatih Real Madrid, tampaknya sudah mempersiapkan timnya dengan baik untuk mengganggu ritme lawan. Real Madrid, meski punya Mbappé yang tajam, kesulitan mengontrol permainan setelah kebobolan.
Drama Babak Kedua dan Gol Kiper Trubin: Benfica Kalah dari Real Madrid UCL MD8
Memasuki babak kedua, Benfica semakin percaya diri. Schjelderup mencetak gol keduanya pada menit ke-53, membuat skor menjadi 3-1. Mbappé membalas lagi untuk Madrid dengan gol keduanya pada menit ke-57, menyempurnakan brace-nya dan mempersempit defisit menjadi 3-2. Ketegangan meningkat ketika Raúl Asencio dan Rodrygo mendapat kartu merah di menit-menit akhir, membuat Real Madrid bermain dengan sembilan pemain.
Drama mencapai puncak di injury time. Benfica mendapat tendangan bebas di menit ke-98, Fredrik Aursnes mengirim umpan silang, dan kiper Anatoliy Trubin naik ke kotak penalti untuk menyundul bola ke pojok gawang Thibaut Courtois. Gol ini menjadi yang pertama bagi Trubin di level senior dan langsung mengamankan kemenangan 4-2. Gol kiper ini tidak hanya menyegel kemenangan, tapi juga memastikan Benfica lolos ke playoff berkat selisih gol, sementara Real Madrid terdegradasi ke posisi kesembilan.
Dampak Hasil bagi Kedua Tim
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Real Madrid. Mereka yang sebelumnya berada di posisi aman dengan 15 poin, kini harus bertarung di babak playoff knockout melawan tim-tim seperti Inter atau yang lain. Álvaro Arbeloa, pelatih sementara Madrid, mengakui timnya kalah dalam segala aspek, terutama tanpa identitas permainan yang jelas. Mbappé tampil brilian dengan dua gol, tapi pertahanan yang rapuh dan kartu merah menjadi biang kerok kekalahan.
Bagi Benfica, ini kemenangan bersejarah. Mourinho berhasil membawa timnya lolos ke tahap knockout meski finis di posisi ke-24. Gol Trubin menjadi simbol ketahanan dan semangat juang, sementara Schjelderup dan Pavlidis menunjukkan kualitas individu. Kini, Benfica siap menghadapi lawan berat di playoff, tapi momentum ini bisa menjadi modal besar. Hasil ini juga menegaskan betapa ketatnya format baru Champions League—satu gol di detik terakhir bisa mengubah nasib tim.
Kesimpulan
Benfica vs Real Madrid Matchday 8 UCL berakhir dengan skor 4-2 yang penuh kejutan, ditandai gol dramatis kiper Anatoliy Trubin di menit ke-98. Kemenangan ini membawa Benfica ke babak playoff secara ajaib, sementara Real Madrid terpaksa turun ke tahap yang sama setelah kehilangan tempat langsung. Pertandingan ini menyajikan segalanya: gol brilian Mbappé, comeback heroik Benfica, kartu merah, dan momen sinematik yang langka. Di era format baru ini, sepak bola Eropa semakin tak terduga—dan malam di Lisbon menjadi bukti nyata betapa satu momen bisa mengubah segalanya. Kini, fokus beralih ke playoff, di mana kedua tim harus tampil lebih baik untuk melanjutkan mimpi Eropa mereka.