Arsenal Raih Kemenangan Dramatis atas Chelsea 1-0. Arsenal meraih kemenangan dramatis 1-0 atas Chelsea di leg kedua semi-final Carabao Cup, memastikan lolos ke final dengan agregat 4-2. Pertandingan yang digelar di Emirates Stadium pada 3 Februari 2026 ini ditentukan oleh gol injury time Kai Havertz, yang menyegel nasib rival London mereka. Gol di menit ke-97 itu datang saat Chelsea mendorong semua pemain maju untuk mencari gol penyama, tapi justru membuka celah bagi Arsenal. Di bawah Mikel Arteta, The Gunners tampil solid di tengah jadwal padat musim 2025/2026, sementara Chelsea di bawah Liam Rosenior harus menelan kekalahan yang menyakitkan meski tampil agresif. Kemenangan ini menandai kembalinya Arsenal ke final Carabao Cup setelah absen enam tahun, sejak terakhir kalah dari Manchester City pada 2020. Mereka kini siap menghadapi pemenang antara Manchester City dan Newcastle di Wembley pada 22 Maret mendatang. Artikel ini akan mengupas jalannya laga, momen krusial, serta implikasinya bagi kedua tim di kompetisi yang semakin ketat. REVIEW FILM
Jalannya Pertandingan: Arsenal Raih Kemenangan Dramatis atas Chelsea 1-0
Laga dimulai dengan Arsenal memegang keunggulan 3-2 dari leg pertama di Stamford Bridge, memaksa Chelsea untuk mengejar defisit satu gol. Atmosfer di Emirates tegang sejak peluit awal, dengan lebih dari 60.000 penonton mendukung tuan rumah. Arsenal mengontrol penguasaan bola sekitar 55 persen, tapi Chelsea lebih berani dalam serangan balik, menciptakan ancaman dini melalui kecepatan Cole Palmer. Di babak pertama, Palmer nyaris membuka skor dengan tendangan dari luar kotak penalti yang mengenai tiang gawang David Raya. Arsenal membalas lewat upaya Bukayo Saka, tapi tembakannya diblok oleh barisan belakang Chelsea yang dipimpin Levi Colwill. Tidak ada gol hingga jeda, dengan kedua tim lebih fokus pada pertahanan daripada risiko berlebih.
Masuk babak kedua, tempo meningkat. Arteta melakukan substitusi dengan memasukkan Leandro Trossard di menit ke-60 untuk menambah kreativitas di lini tengah, sementara Rosenior mendorong Chelsea maju dengan Kiernan Dewsbury-Hall menggantikan gelandang bertahan. Peluang emas Arsenal datang saat Martin Odegaard melepaskan tendangan voli yang ditepis kiper Chelsea, Robert Sanchez. Chelsea balas mengancam lewat sundulan Enzo Fernandez dari sepak pojok, tapi Raya tampil gemilang dengan penyelamatan krusial. Pertandingan tampak akan berakhir imbang hingga akhir waktu normal, memaksa perpanjangan waktu. Namun, di injury time, Chelsea memaksakan serangan total untuk gol penyama agregat. Hal itu justru membuka ruang di belakang: Declan Rice mengirim umpan panjang, Havertz merebut bola, berlari sendirian, mengelabui Sanchez, dan menyelesaikan dengan dingin ke gawang kosong. Skor 1-0 itu tidak hanya mengunci kemenangan malam itu, tapi juga menghancurkan harapan Chelsea untuk comeback.
Momen Kunci dan Analisis Taktik: Arsenal Raih Kemenangan Dramatis atas Chelsea 1-0
Momen paling menentukan adalah gol Havertz di menit ke-97, yang lahir dari counter-attack cepat Arsenal. Ini mencerminkan kekuatan tim Arteta dalam memanfaatkan kesalahan lawan, terutama saat Chelsea mendorong maju tanpa keseimbangan. Havertz, eks pemain Chelsea yang dibeli Arsenal sebesar 65 juta pound pada 2023, kini telah mencetak 12 gol musim ini, termasuk yang simbolis ini melawan mantan klubnya. Secara taktik, Arteta menerapkan formasi 4-3-3 fleksibel, dengan pressing tinggi untuk mengontrol tempo dan memaksa kesalahan. Raya menjadi benteng dengan empat save penting, sementara Odegaard dan Rice mendominasi duel lini tengah.
Di sisi Chelsea, Rosenior mengandalkan strategi serangan balik dengan kecepatan Palmer dan Fernandez, tapi kurang efektif karena finishing buruk—mereka mencatat 12 tembakan tapi hanya dua tepat sasaran. Substitusi di babak kedua meningkatkan tekanan, tapi meninggalkan celah di pertahanan yang dimanfaatkan Arsenal. Expected goals menunjukkan Arsenal unggul tipis (1.2 vs 0.8), menggambarkan efisiensi The Gunners di momen krusial. Pertandingan ini cagey dengan sedikit peluang berkualitas, di mana disiplin Arsenal menjadi pembeda. Analisis ini menegaskan evolusi Arsenal di bawah Arteta menjadi tim tangguh yang bisa bertahan dan menyerang saat dibutuhkan, sementara Chelsea masih mencari konsistensi di era Rosenior, terutama setelah kegagalan transfer di Januari.
Reaksi dan Dampak
Reaksi pasca-pertandingan mencerminkan kegembiraan di kubu Arsenal dan kekecewaan di Chelsea. Arteta memuji mentalitas timnya, menyebut gol Havertz sebagai “momen spesial yang menunjukkan ketangguhan kami.” Havertz sendiri menyatakan kebahagiaannya, tapi menekankan fokus pada final: “Ini langkah besar, tapi pekerjaan belum selesai.” Di media sosial, fans Arsenal merayakan dengan tagar #WembleyBound yang trending, sementara Rosenior mengakui performa bagus timnya tapi menyesali kegagalan memanfaatkan peluang: “Kami pantas lebih, tapi sepak bola seperti itu.” Ia berjanji perbaikan di liga domestik.
Dampak kemenangan ini signifikan bagi Arsenal, meningkatkan moral di tengah perburuan gelar Premier League—mereka unggul dua poin atas Manchester City—dan kompetisi Eropa. Ini adalah final pertama Arteta sebagai manajer utama, berpotensi trofi keduanya setelah FA Cup 2020. Bagi Chelsea, kekalahan menambah tekanan pada Rosenior, yang baru menangani sejak musim lalu, dengan fokus kini bergeser ke liga untuk menghindari musim tanpa gelar. Secara lebih luas, hasil ini menyoroti dominasi Arsenal di derby London belakangan, serta peran pemain seperti Havertz dalam narasi emosional. Di klasemen piala, Arsenal naik sebagai favorit, sementara diskusi tentang taktik Rosenior memicu perdebatan di kalangan analis. Pertandingan ini juga memicu pembicaraan tentang inklusivitas kompetisi piala, di mana efisiensi mengalahkan dominasi penguasaan.
Kesimpulan
Arsenal meraih kemenangan dramatis 1-0 atas Chelsea berkat gol injury time Havertz, menyegel agregat 4-2 dan tiket ke final Carabao Cup. Ini bukan sekadar hasil taktikal, tapi juga suntikan semangat bagi The Gunners di musim 2025/2026 yang kompetitif. Di bawah Arteta, Arsenal menunjukkan ketangguhan, sementara Chelsea perlu introspeksi untuk bangkit. Laga ini mengingatkan bahwa sepak bola sering ditentukan oleh momen kecil yang epik. Arsenal kini satu langkah lebih dekat ke trofi di Wembley, sementara rival mereka harus fokus ulang untuk sisa musim.