Arsenal vs Chelsea: Drama 90+7 Menit. Drama mencapai puncak di Emirates Stadium pada 3 Februari 2026, ketika Arsenal mengalahkan Chelsea 1-0 di leg kedua semi-final Carabao Cup berkat gol Kai Havertz di menit 90+7. Gol itu memastikan agregat 4-2 setelah leg pertama dimenangkan Arsenal 3-2 di Stamford Bridge. Pertandingan berlangsung ketat tanpa banyak peluang bersih, tapi momen akhir menjadi klimaks ultimate: serangan balik cepat yang diselesaikan Havertz melawan mantan klubnya. Arsenal lolos ke final Carabao Cup pertama sejak 2018, menanti pemenang antara Manchester City atau Newcastle United di Wembley pada 22 Maret. Kemenangan ini memperpanjang rekor tak terkalahkan Arsenal atas Chelsea di derby London menjadi 10 laga berturut-turut. BERITA TERKINI
Pertandingan yang Penuh Ketegangan: Arsenal vs Chelsea: Drama 90+7 Menit
Laga leg kedua berjalan defensif sejak peluit awal. Arsenal, dengan keunggulan agregat, fokus menjaga clean sheet dan tidak terlalu terbuka. Chelsea butuh gol untuk memaksa extra time, tapi mereka kesulitan menembus pertahanan solid The Gunners yang dipimpin William Saliba dan Gabriel Magalhães. Sepanjang 90 menit plus injury time, peluang bersih sangat minim—kedua tim hanya punya sedikit tembakan on target, dengan xG masing-masing di bawah 1. David Raya di gawang Arsenal tampil gemilang dengan beberapa penyelamatan krusial, sementara Robert Sánchez di sisi Chelsea juga solid. Chelsea mendorong di paruh kedua dengan memasukkan lebih banyak pemain ke depan, tapi Arsenal bertahan disiplin hingga detik-detik akhir. Atmosfer Emirates semakin panas seiring waktu berjalan, suporter tuan rumah terus mendorong tim untuk tidak lengah di momen krusial.
Gol Dramatis Havertz di Menit 90+7: Arsenal vs Chelsea: Drama 90+7 Menit
Drama mencapai puncak di menit ke-97. Chelsea all-in mencari gol penyama agregat, meninggalkan ruang di belakang. Arsenal memanfaatkan counter cepat: Leandro Trossard mengirim umpan panjang ke Declan Rice, yang lari melewati setengah lapangan lalu mengirim bola akurat ke Havertz di kotak penalti. Havertz, yang masuk sebagai pengganti setelah pulih dari cedera, tenang mengelabui Sánchez dan menyontek bola ke gawang kosong. Gol ini bukan hanya menyegel kemenangan malam itu, tapi juga agregat 4-2. Selebrasi Havertz langsung menunjuk badge Arsenal, disusul banjir pemain dan staf yang berlari ke lapangan. Momen ini disebut sebagai ultimate climax, mengingat timing sempurna dan fakta Havertz mencetak gol melawan eks timnya. Rice jadi arsitek utama, sementara pertahanan Arsenal memastikan tidak ada celah hingga akhir.
Dampak bagi Kedua Tim dan Musim Ini
Bagi Arsenal, ini pencapaian besar di bawah Mikel Arteta. Mereka kembali ke Wembley setelah absen panjang di final besar, dan ini bisa jadi trofi pertama sejak FA Cup 2020. Arteta memuji ketangguhan tim dan ketenangan Havertz sebagai difference-maker. Havertz membuktikan nilai dirinya, terutama setelah sempat diragukan di awal kariernya di Arsenal. Musim 2025/26 semakin cerah: Arsenal puncak Premier League, lolos 16 besar Champions League, dan masih di FA Cup—potensi quadruple terbuka. Chelsea, di bawah Liam Rosenior, kecewa dengan pendekatan yang dianggap overthought dan kurang efektif. Mereka gagal memanfaatkan tekanan akhir, dan kekalahan ini tambah tekanan di musim transisi. Fokus kini bergeser ke liga dan kompetisi Eropa.
Kesimpulan
Drama 90+7 menit di Emirates berakhir manis bagi Arsenal berkat gol Kai Havertz yang dramatis, mengantarkan mereka ke final Carabao Cup dengan agregat 4-2 atas Chelsea. Dari pertandingan ketat tanpa banyak peluang, momen counter Rice-Havertz jadi penentu yang epik. Ini langkah krusial menuju trofi pertama dalam beberapa tahun, dan final Wembley akan jadi ujian besar bagi Arteta cs. Malam ini bukti ketangguhan Arsenal, dengan cerita Havertz menambah rasa manis di derby London. Musim ini semakin menjanjikan bagi The Gunners.