Awal Runtuh Pelatih Ruben Amorim, Kok Bisa Kalah VS Grimsby? Manchester United kembali menjadi sorotan usai kekalahan memalukan dari Grimsby Town, tim kasta keempat Liga Inggris, di babak kedua Carabao Cup pada 28 Agustus 2025. Skor 2-2 di waktu normal berujung pada kekalahan 11-12 dalam drama adu penalti, menandai salah satu titik terendah dalam sejarah klub. Ruben Amorim, pelatih yang baru menukangi MU sejak November 2024, kini berada di ujung tanduk. Kekalahan ini memicu pertanyaan besar: apakah ini awal keruntuhan era Amorim di Old Trafford? Artikel ini akan mengupas latar belakang Amorim, penyebab kekalahan dari Grimsby, dan apakah ini menjadi akhir dari petualangannya bersama Setan Merah. BERITA BOLA
Siapa Ruben Amorim
Ruben Amorim adalah pelatih asal Portugal berusia 40 tahun yang dianggap sebagai salah satu talenta kepelatihan terbaik Eropa sebelum bergabung dengan Manchester United. Ia meraih sukses besar bersama Sporting CP, memenangkan dua gelar Primeira Liga, termasuk mengakhiri puasa gelar selama 19 tahun pada 2020/2021, serta tiga trofi Taça da Liga. Gaya bermainnya yang mengedepankan formasi 3-4-2-1, dengan fokus pada penguasaan bola dan serangan cepat, membuatnya dijuluki “Mourinho baru.” Sebagai pemain, Amorim adalah gelandang pekerja keras yang meraih tiga gelar liga bersama Benfica dan tampil di dua Piala Dunia untuk Portugal. Ketika MU merekrutnya dengan biaya €11 juta untuk menggantikan Erik ten Hag, harapan besar diletakkan padanya untuk mengembalikan kejayaan klub. Namun, setelah sembilan bulan, performa MU justru semakin merosot, dengan hanya 17 kemenangan dari 45 laga di semua kompetisi, menjadikan rasio kemenangannya yang terburuk sejak era pasca-Sir Alex Ferguson.
Kenapa Dia Tidak Bisa Menang Dari Grimsby?
Kekalahan dari Grimsby Town bukanlah sekadar hasil buruk, melainkan cerminan dari masalah mendalam dalam tim asuhan Amorim. Pertama, keputusan Amorim untuk melakukan rotasi besar-besaran di laga ini justru menjadi bumerang. Pemain seperti Andre Onana, Kobbie Mainoo, dan Benjamin Sesko, yang diplot sebagai starter untuk memberi kesempatan bermain, tampil di bawah standar. Onana, misalnya, melakukan blunder fatal pada gol kedua Grimsby oleh Tyrell Warren, gagal mengantisipasi umpan silang yang seharusnya mudah diamankan. Kedua, formasi 3-4-2-1 yang menjadi ciri khas Amorim terbukti tidak efektif melawan tim seperti Grimsby, yang bermain dengan determinasi tinggi dan memanfaatkan serangan balik. Lini tengah MU, dengan duet Mainoo dan Manuel Ugarte, gagal mengontrol permainan, kalah dominasi dari gelandang Grimsby yang jauh lebih rendah levelnya. Ketiga, mentalitas tim menjadi sorotan utama. Grimsby unggul 2-0 melalui gol Charles Vernam dan Warren, memanfaatkan lemahnya organisasi pertahanan MU. Meski MU mampu menyamakan kedudukan lewat Bryan Mbeumo dan Harry Maguire, kegagalan Matheus Cunha dan Mbeumo dalam adu penalti menunjukkan rapuhnya mental di momen krusial. Terakhir, kurangnya intensitas sejak awal laga, seperti diakui Amorim sendiri, membuat MU tampak seperti “tidak ada di lapangan,” kontras dengan semangat juang Grimsby yang didukung 9.000 penonton di Blundell Park.
Apakah Ini Akan Menjadi Akhir Era Pelatihan Ruben Amorim
Kekalahan dari Grimsby telah memicu gelombang kemarahan di kalangan fans, dengan tagar #AmorimOut trending di media sosial. Nyanyian “Anda akan dipecat besok pagi!” dari suporter Grimsby menggema, mencerminkan tekanan besar yang dihadapi Amorim. Statistiknya yang buruk—19 kekalahan dari 45 laga—dan posisi MU di peringkat 16 Premier League setelah dua laga awal musim 2025/2026 membuat posisinya semakin goyah. Amorim sendiri mengisyaratkan kemungkinan mundur, menyatakan ia tidak akan menuntut kompensasi jika manajemen memutuskan ia bukan orang yang tepat. Namun, manajemen MU, di bawah Sir Jim Ratcliffe, tampaknya masih ragu untuk memecatnya, mengingat kontraknya yang masih tersisa dua tahun dan biaya kompensasi yang besar. Di sisi lain, Amorim masih mendapat dukungan dari beberapa pemain kunci seperti Bruno Fernandes dan Luke Shaw, yang percaya pada visinya. Kekalahan di final Liga Europa melawan Tottenham pada Mei 2025 dan hasil buruk lainnya, seperti kalah 0-1 dari ASEAN All-Stars dalam laga uji coba, menambah daftar kekecewaan. Jika Amorim gagal membawa MU meraih kemenangan dalam laga-laga berikutnya, terutama melawan Burnley di Premier League, tekanan untuk menggantikannya bisa menjadi tak terelakkan.
Kesimpulan: Awal Runtuh Pelatih Ruben Amorim, Kok Bisa Kalah VS Grimsby?
Kekalahan Manchester United dari Grimsby Town di Carabao Cup menjadi cerminan dari krisis yang melanda tim di bawah asuhan Ruben Amorim. Blunder individu, taktik yang tidak efektif, dan mentalitas rapuh membuat MU dipermalukan tim kasta keempat. Amorim, yang datang dengan reputasi besar, kini berada di ujung tanduk, dengan desakan pemecatan semakin kencang. Meski ia menunjukkan tanggung jawab dengan meminta maaf dan mengisyaratkan kemungkinan mundur, masa depannya di Old Trafford bergantung pada kemampuan tim untuk bangkit. Laga melawan Burnley akhir pekan ini akan menjadi ujian krusial. Jika MU terus terpuruk, kekalahan dari Grimsby bisa benar-benar menjadi awal runtuhnya era Amorim, menambah babak kelam dalam sejarah klub.