Van Basty Sousa Dihukum Usai Jari Tengah. Laga Persib vs Persija yang berlangsung panas berakhir dengan kekalahan Macan Kemayoran, tapi kontroversi justru muncul setelah peluit panjang. Saat pemain Persija berjalan menuju lorong ruang ganti, Van Basty Sousa terekam kamera mengacungkan jari tengah ke arah tribun Bobotoh. Gestur itu langsung viral di media sosial, memicu kemarahan suporter Persib yang menuntut sanksi tegas. Komdis PSSI segera menyelidiki kasus ini, mengacu pada Kode Disiplin yang melarang tindakan provokatif atau tidak sportif. Sousa, yang bergabung dengan Persija pada musim panas lalu, kini harus absen di dua laga penting, termasuk pertandingan kandang melawan Madura United. Hukuman ini juga disertai denda signifikan, menegaskan komitmen PSSI menjaga sportivitas di liga. MAKNA LAGU
Kronologi Insiden dan Reaksi Publik: Van Basty Sousa Dihukum Usai Jari Tengah
Pertandingan di GBLA berjalan ketat dengan ketegangan tinggi di lapangan. Setelah laga usai, situasi masih memanas karena beberapa insiden kecil antara pemain dan suporter. Di tengah upaya menenangkan suasana, Sousa berjalan menuju lorong sambil mengarahkan gestur jari tengah ke tribun. Rekaman video dari berbagai sudut menunjukkan aksi itu jelas dan disengaja, tanpa upaya menyembunyikan. Suporter Persib langsung bereaksi keras, dengan akun fanbase mereka mengunggah bukti foto dan video, bahkan membandingkan dengan kasus serupa di masa lalu. Banyak yang menilai gestur ini sebagai respons emosional atas kekalahan dan provokasi dari tribun, tapi tetap dianggap tidak dapat diterima dari seorang profesional. Publik sepak bola Indonesia ramai membahas, sebagian membela Sousa karena tekanan pertandingan derby, tapi mayoritas menuntut hukuman setara dengan preseden sebelumnya agar tidak ada diskriminasi.
Bandingkan dengan Kasus Serupa dan Alasan Hukuman: Van Basty Sousa Dihukum Usai Jari Tengah
Komdis PSSI tidak butuh waktu lama untuk memutuskan. Mereka merujuk pada kasus Ciro Alves dan Putu Gede yang pernah melakukan gestur serupa setelah kalah dari Persis Solo. Saat itu, Ciro Alves dihukum larangan dua laga plus denda besar, sementara Putu Gede mendapat sanksi lebih berat karena ada elemen tambahan. Sousa dinyatakan melanggar pasal terkait provokasi suporter, dengan bukti visual yang kuat. Hukuman dua laga dipilih karena gesturnya dianggap langsung memprovokasi tanpa kekerasan fisik tambahan. Denda yang dikenakan juga cukup tinggi, mencerminkan upaya PSSI menekan perilaku tidak pantas di era liga yang semakin disorot. Sousa sendiri belum memberikan komentar resmi pasca-hukuman, tapi klub Persija menyatakan menghormati keputusan dan fokus pada adaptasi skuad. Insiden ini menambah catatan buruk bagi pemain asing yang harus menjaga sikap di tengah tekanan tinggi kompetisi domestik.
Dampak bagi Persija dan Karier Sousa
Absennya Sousa datang di saat yang tidak tepat bagi Persija. Tim sedang menghadapi badai cedera, termasuk pemain kunci lain yang harus naik meja operasi, membuat lini tengah semakin tipis. Dua laga tanpa Sousa berarti pelatih harus merombak formasi, terutama di pertandingan krusial melawan tim papan tengah dan bawah. Sousa, yang dikenal garang dan tangguh sejak di Brasil, sebenarnya punya kontribusi penting di lini bertahan dan distribusi bola. Hukuman ini bisa memengaruhi ritme permainannya setelah kembali, apalagi jika tim mengalami hasil buruk selama ia absen. Di sisi positif, insiden ini bisa jadi pelajaran bagi Sousa untuk lebih mengontrol emosi, terutama di laga derby yang selalu panas. Persija tetap punya kedalaman skuad, tapi kehilangan gelandang bertahan seperti dia jelas terasa. Hukuman ini juga mengingatkan semua pemain bahwa gestur kecil bisa berakibat besar di era media sosial yang cepat menyebarkan bukti.
Kesimpulan
Van Basty Sousa memang dihukum setelah gestur jari tengah yang kontroversial, dengan larangan dua laga dan denda sebagai konsekuensi langsung. Insiden ini menunjukkan betapa ketatnya aturan disiplin di liga saat ini, di mana tindakan provokatif tidak ditolerir meski dalam situasi emosional. Sousa harus menerima hukuman sambil belajar dari kesalahan, sementara Persija dihadapkan pada tantangan rotasi pemain di tengah jadwal padat. Sepak bola Indonesia terus berkembang, dan kasus seperti ini jadi pengingat penting soal sportivitas serta tanggung jawab profesional. Semoga ke depan, fokus kembali ke lapangan hijau tanpa drama di luar itu. Persija pasti bisa melewati masa sulit ini dengan kekompakan skuad yang tersisa.